Raup Fulus dari Sulam Usus

0
930
Sulam usus--Lampung
Sulam usus--Lampung
Jajananlampung.com, Bandarlampung– Masyarakat Lampung pasti mengenal sulam usus. Kerajinan yang telah ada sejak dulu ini merupakan tradisi masyarakat Lampung Pepadun.
Sejak dikenal pada tahun 1990-an, kerajinan sulam usus semakin banyak peminatnya. Yang tadinya hanya kalangan ekonomi menengah ke atas, kini kerajinan sulam usus banyak dimintai semua kalangan.
Eva Herawati, salah satu perajin seni sulam usus khas Lampung, saat ditemui jajananlampung.com di kediamannya, menerangkan tahun 2003 adiknya membuka usaha sulam usus, bagaimana membuat pola, dan cara merangkainya.
“Setelah pandai menyulam dan belajar memasarkannya, akhirnya adik saya menyarankan agar membuka sendiri usaha selain sebagai mengisi waktu juga dapat menghasilkan uang,” jawabnya sambil tersenyum.
Tahun 2005 dia memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri. Waktu itu, omzet yang didapat tidak begitu besar. Pengerjan pesanan baju dari pelanggan pun hanya dikerjakan sendiri. Tahun-tahun berikutnya, usaha yang dia tekuni mulai mengalami kemajuan.
Pesanan baju sudah mulai banyak dan pengerjaannya tidak bisa dilakukan sendiri. Dari situ, ia memperkerjakan kerabat agar bisa membantu menyelesaikan pesanan-pesanan baju. “Alhamdulillah, pesanan baju semakin bertambah. Yang awalnya hanya menyulam jenis baju kebaya, kini sudah memuat pola-pola lain seperti dres, gaun malam, dan lain-lainnya,” ucapnya.
Kini kerajinan sulam usus yang diproduksinya sudah dijual hingga luar Lampung, di antaranya Bandung, Jakarta, Semarang, sampai Kalimantan. Untuk pasar di Bandar Lampung, banyak kalangan menengah ke atas yang memesan hasil karyawanya.
Istri dari Darwansyah ini menjelaskan untuk pengerjaan satu baju kebaya diperlukan waktu dua hari pengerjaan. Untuk baju dress dan gaun malam diperlukan waktu hingga satu minggu.
Pengerjaan ini termasuk cepat karena cara dikerjakan oleh beberapa orang. Saat ini ada banyak karyawan yang merupakan ibu-ibu tetangga saya untuk ikut mengerjakan pesanan-pesanannya.
“Untuk bahan baku, banyak dari saten jepang, benang nilon, dan mote-mote jepang. Dalam satu minggu bisa memproduksi 20—25 potong baju. Kini omzet per bulan sudah mendapai 100 baju yang terjual,” tutup Eva.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here