Makan Ala Sunda di Nasi Liwet Kang Emil

0
277
Nasi Liwet Kang Email yang menggugah selera
Nasi Liwet Kang Email yang menggugah selera
Jajananlampung.com,Bandar Lampung—-Mendengar kata “nasi liwet”, terawang angan langsung menuju periuk babut gosong, api dari kayu bakar menjilat-jilat, dan asap tebal membumbung di dapur berjelaga.
Lalu, pikiran meraba-raba rasa sambel korek, ikan asin goreng, dan gaya makan di atas tikar dengan kaki berkacak.
Deskripsi suasana itu, masih banyak di desa-desa, tetapi tidak “dijual”. Namun, jika kekangenan akan nuansa etnik khas itu, rumah makan nasi Liwet Kang Emil di bilangan Rajabasa, Bandar Lampung bisa sedikit mengobati.
Mengusung masakan dan nuansa Sunda, rumah makan di Jalan Abdul Haq itu memberikan rasa tenteram. Namun, keluk kebul atau asap dan jelaga tidak hadir di sini.
Mengusung konsep tempat makan, musik, layanan, dan cita rasa Sunda, Nasi Liwet Kang Emil tampil beda. Menu sambel terasi ulek dan ikan asin goreng dan sekadar sayur asem memang tersedia, tetapi menu yang menjadi unggulan relatif beda.
Nasi pulen legit yang dimasak dengan cara tradisional sebagai menu utama bisa disandingkan dengan ayam atau bebek goreng serundeng. Juga ada sate maranggi, pepes ikan mas duri lunak, dan ikan mas bakar khas Tanah Pasundan.
Saat anda memasuki warung Kang Emil nuansa Jawa Barat akan terasa baik dari konsep tempat, alunan musik, menu makanan dan minuman sampai dengan cara penyajiannya.
Nasi Liwet Kang Emil yang buka dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam ini memang bukan nasi biasa. Disajikan langsung dengan alat penanaknya, yakni periuk kastrol, ikan peda sudah berada di dalam wadah itu.
“Dalam nasinya sudah ada bumbu dan ikan asin peda. Jadi, fresh baru diliwet,” kata kang Emil, pemilik warung etnik ini.
Saat nasi liwet disajikan aroma ikan peda dan bumbu rempah menimbulkan aroma yang bikin selera makan kita terpacu untuk menikmati menu ini. Ditambah dengan sambel goreng dan goang berikut berbagai lalapan.
Pria berdarah Sunda ini menjelaskan selain nasi liwetnya punya menu pesial seperti Sate Maranggi dengan bahan daging sapi kas (pilihan) yang disajikan dengan kecap manis.
Sate Maranggi
Sate Maranggi
Pengolahan sate ini sebelum dibakar direndam selama 1 jam dengan bumbu-bumbu (resepnya dari Cirebon).
Selain itu ada bebek dan ayam goreng yang ditaburi serundeng, sop iga, serta ikan pepes bakar duri lunak yang semuanya khas Jawa Barat.
Untuk harga bebek goreng serundeng paha dan dada dari Rp23 ribu- Rp24 ribu, sate maranggi Rp25 ribu dan sop iga Rp22 Ribu perporsi.
bebek goreng serundeng
bebek goreng serundeng
“Kami juga menyediakan gorengan ati ampela bebek Rp2.000 ribu, kepala bebek Rp5.000, telur dadar Rp 4.000, lele goreng perporsi isi 2 Rp11 ribu, ayam goreng dan bakar Rp13 ribu. Dan bagi pengunjung yang ingin menikmati menu sayuran kami ada cah kangkung, cah tauge dan tahu tempe mendoan dibandrol dengan harga Rp7.000-an saja.
Kang Emil juga menyedikan menu nasi liwet special yang dapat dinikmati 3 orang harga Rp23 ribu, 4 orang Rp24 ribu, dan 5 orang Rp30 ribu per orang. “Bisa dibilang ini paket hematlah,” terangnya.
Sedangkan untuk menu minuman special ada Jeniper Alba yaitu jeruk nipis peras ala Bandung dengan harga Rp8.000 pergelas. Minuman yang dipercaya sebagai antikolesterol ini sangat diminati pengunjung.
Jeniper Alba
Jeniper Alba
Ada juga berbagai varian jus, berbagai es seperti susu putih dan coklat, jeruk, lemon tea, teh dan kopi hitam dengan harga Rp2.000 sampai Rp10 ribu. “Kami juga menyediakan promo bagi para pengunjung 50 persen potongan harga dari pukul 10.00 – 16.00 WIB untuk menu nasi liwet,” kata dia.
Bagi para mahasiswa Nasil Liwet Kang Emil juga menyediaka potongan 10 persen untuk keseluruhan transaksi. “Ya para mahaisiswa diluar diatas pukul 17.00 WIb dapat menggunakan fasilitas ini.”
Pria anggota komunitas tangan diatas (TDA) ini memulai usahanya pada tahun 2012. Sebelumnya, ia  buka di Jalan Pramuka, depan Museum Lampung, Sukarame, dan terakhir di tempat ini.
“Tadinya ingin membuat cabang tetapi malah tidak fokus dan akhirnya diputuskan untuk mematangkan disini.”
Ia mengaku belajar membuat nasi liwet saat dipesantren di Tasikmalaya. Saat malam hari lapar, bersama teman-teman buat nasi liwet, walaupun tanpa lauk ikan peda.
Selesai di pesantren pulang ke Lampung dengan dorongan keluarga yang telah membuka usaha kuliner di Tasikmalaya. Namun, akhirnya ia mencoba membuka warung nasi liwet sampai sekarang.(JL).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here