Kreasikan Tapis agar Tetap Eksis

0
98
Aan Ibrahim- fashion show
Aan Ibrahim- fashion show

AAN IBRAHIM

Kreasikan Tapis agar Tetap Eksis

Jajananlampung.com, Bandarlampung—DUNIA mode selalu dinamis, berkembang mengikuti zaman sesuai selera masyarakat. Hal ini menjadi semacam siklus yang berputar.

Hal inilah yang disadari oleh betul oleh Aan Ibrahim untuk terus produktif berinovasi hingga menjadikannya seorang desainer yang sudah menasional. “Desainer atau orang yang terjun di dunia retail pakaian, dia harus tahu itu.

Dan, mesti punya daya kreativitas untuk mengubah-ubah desain supaya tetap eksis,” kata perancang busana asal Lampung ini.

Untuk masyarakat Lampung, sebagai satu entitas peradaban, Ann melihat Lampung juga memiliki mode sejak masa primitif. Menurut pria kelahiran Pagardewa ini, Lampung memiliki banyak jenis kain, motif, dan desain busana Lampung.

Kekayaan budaya itu pun menjadi modalnya untuk concern menekuni dan mengembangkan mode hasil budaya Lampung, seperti tapis dan sulam usus. “Begitu saya perdalam, tapis itu ternyata memang ada motif-motif tertentu. Untuk si gadis, ibu, mertuanya, tante, dan pamannya, itu motifnya berbeda-beda,” ucap Direktur CV Aan Ibrahim Brother ini.

Kekayaan kain tradisional serupa ini juga sama seperti halnya di daerah lain, seperti di Jawa. Namun, seriring perkembangan zaman, kebudayaan Jawa lebih masif tersebar di penjuru Nusantara. “Adat budaya Jawa pun seperti itu.

Ada batik khusus untuk Sultan. Namun, sejak 20 tahun yang lalu, pihak keraton sudah welcome memperbolehkan para perajin membuat motif seperti yang dikenakan sultan dan dijual bebas.”

“Sayangnya, kalau Lampung tertinggal. Saat dulu saya mengembangkan tapis dan sulam usus, itu banyak ditentang oleh orang-orang adat. Khawatirnya, orang-orang biasa memakainya.

Nah, itu pemikiran sempit sebenarnya. Budaya itu salah satu cara mempromosikan daerah masing-masing, bukan berarti orang mengambil
adat kita,” kata dia bercerita.

Tantangan Mengembangkan Tapis

Karakter kain tapis yang mencolok tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Aan untuk mengkreasikannya menjadi busana yang mampu diterima masyarakat luas. “Salah satu kendalanya memang bagi orang yang tidak terbiasa menggunakan warna-warna mencolok, contohnya orang Jawa yang suka dengan warna kalem-kalem.

Namun, di zaman modern sekarang justru orang-orang cenderung menggemari busana yang gelamor, apalagi artis, Miss Universe, atau Miss Indonesia,” ujar ayah dua anak itu.

karya aan Ibrahim saat fashion show
karya aan Ibrahim saat fashion show

Bukan hanya Lampung, lanjut dia, seluruh Sumatera itu semua pakaian tradisional terdiri dari benang emas. Dekorainya pun didominasi warna emas. Dokarsi dn aksesorinya pun emas semua. “Nah, tinggal kami sebagai desainer menempatkan emasnya di tempat tertentu, sehingga tidak membuat estetikanya itu rusak. Itulah peran desainer,” papar suami dari Rosidasari Murad itu.

Selain itu, kain Lampung yang terasa eksklusif tak cocok untuk busana keseharian. Menyiasati itu, Aan yang punya cara agar batik tetap eksis. Bahkan, ia mampu menyisipkan unsur tapis dalam busana-busana kasual ala anak muda. “Memang jika ditaruh di kaus-kaus pakaian kasual, sebetulnya sangat mencolok.

Tetapi, karena anak-anak muda sekarang suka berekspresi, mereka mau saja memakai. Caranya menyiasatinya supaya jangan terlalu menor, motif tapis dibuat diatas bahan batik. Motifnya tetap tapis, tetapi dibatik. Nah, kita bisa pilih warna kalem untuk mengurangi unsur mencoloknya,” imbuh pemilik gelar Doctor Honoris Causa Bidang Seni Budaya dari Chicago University, Amerika, itu.

Memiliki misi membawa tapis dikenal nasional hingga dunia, bukanlah sesuatu yan mudah, terlebih ketika berbicara mengenai teknis berpromosi. “Belum banyak orang tahu tapis. Kita promosinya banyak, tapi tanggung. Misalnya kalau pemerintah daerah mempromosikan tapis lewat peragaan busana di Jakarta, yang diundang pakar-pakar mode, jurnalistik mode, dan tokoh-tokoh masyarakat Jakarta. Yang selama dilakukan Pemda, show di Jakarta pakai hotel berbintang. Yang nonton orang Lampung. Bagaimana coba promosinya? Cuma pindah tempat saja. Malah menghabiskan biaya,” kata Aan mengktitik.

Aturannya, lanjut Aan, kalau pemda yang mengadakan, dia mengimbau agar mengundang semua stasiun televisi dan media massa. Sesudah itu, tokoh-tokoh yang berpengaruh soal mode dan tekstil. “Tapi, itu sama sekali tidak pernah dilakukan.

Kita harus pertontonkan orang luar yang tadi tahu menjadi tahu. Yang terjadi selama ini cuma seremonial, menghabiskan dana, tapi hasilnya tidak maksimal. Pemerintah enggan menyerahkan pada swasta. Kalau begitu terus, kita berkutik di situ saja dari tahun ke tahun seperti itu,” urai Aan.

Untuk prospek kain Lampung, menurut Aan, tapis sangat punya masa depan. Buktinya, kisahnya, perancang dari dari Jawa yang membuat buat gaun malam dari tapis memperoleh juara internasional.

Kemdala lain, kain Lampung dikenal mahal sehingga kurang massif seperti lurik atau kaus massal. Hal itu pula yang menjadikan tapis sulit menembus seluruh lapisan masyarakat.

“Yang membuat mahal ialah proses pembuatannya yang masih manual dan memakan waktu lama. Nah, dari itu pemerintah berpikir bagaimana caranya kita membuat mesin, tapi motifnya ini dibuat massal. Misalnya tektil motifnya sulam usus tapi dibuat dalam bahan biasa yang dapat dipergunakan anak sekolah dan pegawai kantor,” kata pria yang memiliki 100 orang pekerja ini. (JL/LB)

Aan Ibrahim
Aan Ibrahim

BIODATA
Nama            : Aan Ibrahim
Kelahiran       : Pagardewa, Tulangbawang, 12 Juni 1955
Istri               : Rosidasari Murad
Anak              : Dewi Sophy Septika Jismar
Mawar Indah Lestari Jismar
Alamat Rumah : Jalan Mr. Gele Harun Atas No. 40, Bandar Lampung.
Alamat Galeri : Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung.
Profesi            : Desainer
Jabatan :
– Direktur CV Aan Ibrahim Brother
– Direktur Koperasi Way Agow
– Direktur Sekolah Kepribadian Aan Ibrahim Modeling School
Penghargaan :
– Doctor Honoris Causa Bidang Seni Budaya dari Chicago University Amerika
– Seni Budaya dari ASEAN Intertaiment Indonesia Award ASEAN Program Consultant 1997
– Pengusaha kecil terbaik dari Perindustrian Lampung (1995—2000)
– Pengusaha menengah terbaik dari Disperindag Lampung (2001—2004)
– Shiddakarya dari Disnaker Lampung (1997)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here