Keripik Shinta, Tawakal Membawa Keripik Terkenal Sampai Pasar Nasional

0
263
Shinta pendiri tempat oleh-oleh istana keripik
Shinta pendiri tempat oleh-oleh istana keripik
Jajananlampung.com, Bandarlampung– Melimpahnya singkong dan pisang sebagai hasil perkebunan di Provinsi Lampung telah menginspirasi perempuan muda bernama Shinta untuk membangun istana di tanah kelahirannya.

Ya, istana..! Istana yang penuh dengan hasil olahan pisang dan singkong yang berwujud keripik beraneka rasa..!

Berawal dari ketekunan dan keuletannya membuat dan menjual sendiri keripiknya di tahun 2005 ketika masih duduk di bangku SMA akhirnya impiannya untuk membangun istana keripik terwujud di tahun 2009.

“Di usia saya yang masih 18 tahun saat itu, saya turun langsung ke kebun-kebun milik petani untuk membeli singkong dan pisang. Belajar menafsir dan memilih kualitas terbaik yang bisa diolah menjadi keripik, mencari supplier yang bisa diajak bekerja sama menjaga kualitas, sampai akhirnya dipercaya oleh supplier,” papar Shinta dengan suara khasnya yang penuh semangat.

Perempuan tangguh yang resmi disunting Heru Kurniawan pada 14 Juli 2012 ini tak perlu lagi repot mengerahkan energi untuk mencari bahan baku untuk dapur tempatnya mengolah keripik.

“Saat itu toko keripik yang saya bangun diniatkan untuk orang tua saya. Sebab itu, saya menuliskan nama ibu saya sebagai brand toko. Namun, karena ingin mengembangkan usaha dengan manajemen yang saya pelajari di bangku kuliah ekonomi saya, saya terinspirasi untuk membuat brand dengan nama saya sendiri,” katanya sembari menunjukkan brand Keripik Shinta pada packing keripiknya.

Istana Keripik Shinta beralamat di Jalan Pagaralam No. 36, Segalamider, Bandar Lampung, akhirnya resmi berdiri tahun 2012. Usaha yang dibangun berkat kerja kerasnya itu kini di-support penuh oleh sang suami yang sangat mendukungnya memajukan usaha.

Dari sanalah perempuan muda yang kini memiliki dua anak, Jifan dan Qaireen, ini menggeluti bisnisnya. Bangun, jatuh, lancar, tersendat, susah, payah, dan bangkit lagi dalam menjalani bisnis telah biasa dia hadapi.

“Masalah apa pun pasti datang ke setiap orang yang masih bernapas. Itu pun pernah saya alami. Baik eksternal maupun internal dalam mengelola usaha itu biasa terjadi, tapi saya tak mau menyerah. Apalagi, mengingat usaha yang saya bangun ini murni dari berlelah-lelah hasil keringat bercampur tanah,” ucap Shinta dengan menahan haru. Ada genangan air di matanya hingga mata bulatnya itu berkaca-kaca.

Sembari sibuk membuat skrip untuk pebuatan dokumenter inspiratif yang dia bagikan untuk perempuan-perempuan mantan pekerja dari luar negeri yang hendak pulang ke Tanah Air, Shinta memaparkan tekadnya untuk membantu dan menginspirasi banyak orang.

“Para pekerja dari luar negeri pulang dengan banyak uang, tetapi mereka belum tahu hendak diapakan uang itu. Belum ada tujuan yang jelas hingga uang itu banyak yang habis sia-sia. Berbeda dengan saya dulu. Saya tak punya apa-apa namun bertekad membangun usaha dengan uang Rp300 ribu rupiah.

Dengan berbekal doa dan mimpi untuk mengubah hidup, saya bertekad bertumpu pada kekuatan diri dan bergantung pada Allah. Alhamdulillah, saya sekarang bisa membantu memberikan penghasilan untuk 20 karyawan,” kata pengusaha muda yang kerap mengisi workshop kewirausahaan dan juga meraih berbagai penghargaan itu sembari tersenyum.

Meskipun ada kendala, usaha terus diupayakan berjalan. Kepercayaan demi kepercayaan pemasok baik bahan mentah untuk membuat keripik atau pun barang dagang seperti snack, kerupuk, dan kemplang terus mengalir memenuhi kebutuhan akan permintaan konsumen di tokonya.

Hingga di tahun 2017, Shinta tak hanya menggeluti keripik, tetapi juga mulai mengembangkan usaha pie pisang dan sang suami terinspirasi untuk membuka gerai kopi di istana keripiknya.

“Kalau lagi belanja tuh terkadang ada konsumen yang tanya, ada kopi enggak?” terang Heru Kurniawan sang suami yang notabene memiliki orang tua yang menggeluti bisnis kopi sejak 1981.

“Jadi, kenapa kita tidak meneruskan? Bedanya, orang tua saya jual beli kopi mentah dan saya menyajikan dalam bentuk olahan. Kopi cocok untuk bapak-bapak yang menemani keluarga belanja oleh-oleh. Jadi bisa duduk santai dan enggak jenuh,” kata Heru lagi dengan senyum khasnya yang ramah sembari memandang para pekerja yang sedang bekerja untuk menambah bangunan tokonya di bagian depan.

“Nantinya, bangunan itu akan dijadikan tempat minum kopi dan rileks bagi para konsumen. Ada 13 varian kopi yang akan menjadi pilihan konsumen pencinta kopi. Mulai dari Robusta Ulu Belu, Arabika Bali, sampai kopi impor dari Ethiopia,” tambah lelaki berwajah oriental ini dan diamini oleh sang Istri dengan suara lembut dan penuh ketulusan.

Di bangunan baru itu juga pie bisa dinikmati dengan suasana santai. Ada pie kismis, cokelat, keju, dan almon. Semuanya dibanderol Rp8.000 per buah. Ada juga pie premium cokelat keju seharga Rp30 ribu.

Pie pisang itu sengaja dihadirkan di Keripik Shinta untuk menyeimbangkan usaha kekinian dan juga memenuhi permintaan konsumen, sehingga konsumen bisa mendapatkan banyak pilihan oleh-oleh tanpa harus sibuk keliling Bandar Lampung untuk melengkapi buah tangannya.

Sementara untuk oleh-oleh murah meriah namun tetap mewah, Shinta memberikan penawaran kepada konsumen dengan mengemas aneka kripik dan snack-nya menggunakan trik jitu, yakni mengemas keripik dengan kemasan cantik dan tentunya juga harga yang ditawarkan cukup bersahabat dan sangat memanjakan konsumen.

“Kalau mau menyenangkan kawan, saudara, atau kerabat yang kita kunjungi, kan lebih enak kalau bawa oleh-oleh dengan rupa-rupa rasa. Tetap bisa menikmati lezatnya aneka keripik dan yang pasti, murah meriah,” kata Sinta lagi sembari menyodorkan sebungkus keripik pisang balado basah seberat 250 gram dengan harga hanya Rp20 ribu. Nah, enggak perlu beli sekilo, kan kalau mau bawa juga rasa yang lainnya.

Nah, berkat segala kerja keras, semangat dan juga doa yang tiada henti, akhirnya Shinta bisa mewujudkan istana keripiknya menjadi tempat edukasi bagi siapa pun yang ingin belajar, wisata belanja oleh-oleh khas Lampung dan juga inspirasi bagi semua orang.

Shinta dan istana keripiknya akan terus jeli mengembangkan produk-produk penganan khas lokal dan terus konsisten untuk menjadikan Keripik Shinta sebagai ikon, tidak hanya produk, tetapi juga keramahan yang dikedepankan kepada konsumen.

“Kepercayaan konsumen kepada kami adalah sebuah tantangan besar. Keripik disebut, Lampung juga disebut,” kata Shinta sembari tersenyum penuh harapan dan optimistis.

Shinta terus mempersiapkan cara-cara pemasaran yang ciamik. Bagaimana hasil olahan singkong dan pisang yang berupa keripik bisa dihadirkan dalam kemasan modern dengan pemasaran mengikuti zaman yang terus berkembang.

Dan targetnya di tahun 2018 adalah tahun-tahun penuh spirit untuk menyejahterakan karyawan dan juga memberikan inspirasi juga semangat untuk siapa pun yang ingin memulai usaha.(JL/LB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here