Kontroversi Krupuk pada Seblak Mang Ubay

0
291
Seblak Seafood
Seblak Bandung Mang Ubay--Seblak Seafood
Jajananlampung.com, Bandar Lampung — Ahaiiii….kontroversi seblak? Ah, judul tulisan ringan kok jadi kayak berat banget, ya.

Tetapi, apa sih yang dimaksud..?

Ini soal kudapan super ringan bernama krupuk. Oleh penciptanya, krupuk dibuat sebagai camilan ringan tawaran utamanya adalah kerenyahan. Maka, ketika krupuk sudah melempem akibat penguapan atau kedaluarsa, maka nilai jual dan nilai konsumsinya tamat.

Tetapi, kita sering mendapati orang suka makan krupuk pakai sambal, kecap, dicelup cuka atau kuah soto. Atau, sebagian orang lebih suka makan krupuk yang “gagal produksi” akibat bantat dan tak renyah.

Hasil mengintip orang-orang “aneh” itu ditangkap oleh pelaku kuliner kreatif kota Bandung. Maka, terciptalah seblak, panganan perantara yang diramu dari krupuk. Di seblak ini, krupuk bukannya dibuat kriuk, tetapi justru direndam kuah gurih.

Kudapan ini sohor di Bandung. Tak butuh waktu lama, kota lain, terkasuk Lampung juga ikut demam. Maka, jika ingin merasakan galak dan bandungnya seblak Bandung, melipir saja ke Warung Seblak Bandung Kang Ubay.

Dimana? Weitsss….tenang. Karena pecintanya semakin banyak dan menyebar, Seblak Bandung Kang Ubay kini sudah ada tiga cabang.

Yakni, 001_ Antasari samping Kantor Pos, 002_Pulau Bacan pintu masuk 10 meter, dan 003_Urip Sumoharjo. “Semuanya masih di Bandar Lampung,” kata Hendri, pemilik Warung Seblak Bandung Kang Ubay kepada Jajananlampung.com.

Seblak berupa kerupuk basah dan diberi aneka bumbu. Antara lain bawang merah, bawang putih, garam, kencur, cabe rawit, kunyit, dan penyedap rasa.

Cita rasa pedas yang berpadu dengan aroma dan rasa kencurnya yan tajam membuat seblak punya rasa yang khas dan selalu dikangeni penggemarnya.

Di gerainya, Hendri menyediakan dua jenis seblak. Yakni, seblak basah dan seblak kering. Ia menerangkan, usaha yang digeluti sejak 2017 itu sangat digemari pelanggannya.

“Alhamdulilah berkat do’a istri dan dukungan keluarga usaha ini dapat berkembang,” kata pria lulusan SMA di Bandar Lampung.

Soal menu, kata Hendri, ada enam menu diantaranya sea food, spesial, ceker, bakso, dan sosis.  Sedangkan masalah harga, ia menyebut cukup terjangkau.

Misalnya, untuk sablak seafood Rp20 ribu, sablak spesial Rp16 ribu, sablak ceker, sablak bakso dan sablak sosis cukup Rp13 ribu.

Sebagai teman makanan khas Bandung ini kami sediakan es teh manis pengunjung cukup membayar hanya Rp3 ribu, saja.

Di kota Kembang kudapan ini merupakan kerupuk yang direndam guna  mendapatkan tekstur kenyal. Kemudian bumbu yang digunakan seperti bawang merah, bawang putih, garam, kencur, cabe rawit, kunyit, dan penyedap rasa.

Aslinya seperti itu untuk menarik pembeli banyak kreasi yang dilakukan oleh pedagang seblak dengan menambahkan ceker, sosis, bakso dan lain-lain, ujar pria kelahiran Lampung keturunan Jawa Barat ini.

Pria yang hoby berburu kuliner ini menguraikan sebagai kreasi seblak kami tambahkan macaroni dan untuk sayurannya kol yang ditumis dengan telor, hingga rasanya beda dengan seblak ada di Bandar Lampung.

Dan menyesuaikan lidah sumatera khususnya Lampung, maka kencur tidak kami gunakan.

Jalan Pangeran Antasari samping kantor pos cabang Antasari (20 meter dari Bank Lampung), inilah awal mula saya memulai usaha ini dibantu paman sendiri chef Ujang hingga bisa membuka dua cabang lagi.

“Seblak makanan berat, murah meriah dan mengeyangkan”, sangat cocok di nikmati saat malam hari atau cuaca dingin, terang Hendi.

Bagaimana anda penasaran dan ingin mencoba salah satu kuliner khas Bandung ini..? catat jam opersionalnya dari pukul 17.30 – 23.00 WIB. (JL).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here